TUGAS METODELOGI PENELITIAN
Nama : Trias Kartika Oktrina
NIM : 20060484006
Kelas : 2020 A
Prodi : S1 Ilmu Keolahragaan
TUGAS METODELOGI PENELITIAN
Menganalisis masalah dilengkapi dengan :
1. Berdasarkan pengalaman langsung yang dialami
2. Berdasarkan pengalaman langsung hasil pengamatan terhadap orang lain
3. Berdasarkan penelitian sejenis yang diteliti
4. Berdasarkan hasil dan penjelasan yang dikutip dari jurnal beserta daftar pusaka
Masalah yang dianalisis :
A. Keadaan mental pemain saat akan menghadapi sebuah pertandiangan.
1. Berdasarkan pengalaman langsung yang dialami :
Pengalaman saya ialah pada saat saya pertama kali mengikuti pertandingan futsal, saya merasa sangat cemas dan perasaan hati tidak karuan. Selain itu pikiran saya dipenuhi oleh rasa takut dan menjadi pesimis.
2. Berdasarkan pengalaman langsung hasil pengamatan terhadap orang lain :
Dari hasil pengamatan saya terhadap teman satu tim saya, kebanyakan dari mereka memang merasa cemas apalagi sehari sebelum pertandingan bahkan saat baru akan memulai pertandingan mereka merasa sangat takut dan banyak tekanan yang dirasakan sehingga membuat mereka menjadi merasa khawatir yang berlebihan.
3. Berdasarkan penelitian sejenis yang diteliti :
Penelitian terhadap 200 atlet futsal yang mengalami kecemasan :
Gejala | Jumlah | Prosentase |
1. Tegang | 105 | 52,5% |
2. Jantung berdetak lebih cepat | 91 | 45,5% |
3. Gugup | 91 | 45,5% |
4. Berkeringat pada telapak tangan | 83 | 41,5% |
5. Mudah emosi | 78 | 39% |
6. Gemetar | 73 | 36,5% |
7. Takut menghadapi kegagalan | 72 | 36% |
8. Panik | 65 | 32,5% |
9. Cepat terkejut | 63 | 32,5% |
10. Gelisah | 62 | 31% |
11. Takut menghadapi lawan | 25 | 12,5% |
12. Mual | 22 | 11% |
Berdasarkan hasil penelitian survey awal terhadap 200 atlet futsal di atas, dapat disimpulkan bahwa prosentase gejala kecemasan yang paling banyak dialami atlet Futsal dalam menghadapi pertandingan adalah tegang dengan prosentase 52,5%, jantung berdetak lebih cepat dengan prosentase 45,5% dan gugup dengan prosentase 45,5%. Dari hasil survey awal yang dilakukan peneliti, telah ditemukan atlet-atlet yang memiliki gejala-gejala kecemasan tinggi.
Kesimpulan dari hasil survey awal dari 200 atlet futsal, terdapat 28 atlet yang memiliki gejala kecemasan paling banyak yaitu 6 sampai dengan 7 aspek gejala kecemasan dalam menghadapi pertandingan. Table di atas menunjukkan gejala kecemasan yang paling sering dialami oleh 28 atlet futsal sebelum pertandingan. Gejala pertama yaitu tegang yang dialami oleh 20 atlet, kedua adalah panik yang dialami oleh 19 atlet, dan yang ketiga adalah gelisah dan mudah emosi yang dialami oleh 18 atlet.
4. Berdasarkan hasil dan penjelasan dari jurnal beserta daftar pusaka :
Kecemasan Menghadapi Pertandingan Pada Atlet Futsal oleh Dimas Cesar Dharmawan pada tanggal 13 Desember 2016
Hasil kutipan dari penelitian tersebut adalah :
Kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kecemasan muncul pada saat sebelum pertandingan dimulai dan pada saat awal- awal pertandingan. Hasil observasi menunjukkan bahwa informan pada saat akan memulai pertandingan sering melakukan kesalahan saat melakukan pemanasan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Cratty (Husdarta, 2010) yang menjelaskan bahwa pada umumnya kecemasan meningkat sebelum pertandingan yang disebabkan oleh bayangan akan beratnya tugas dan pertandingan yang akan datang. Menurut pernyataan informan, kecemasan yang dialami muncul disebabkan oleh lawan yang akan dihadapi informan memiliki kekuatan atau peringkat yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Gunarsa (2008), yang menyatakan apabila lawan yang dihadapi memiliki peringkat dibawahnya maka akan menimbulkan perasaan percaya diri yang berlebihan. Sebaliknya apabila lawan yang dihadapi memiliki peringkat diatasnya maka akan timbul berkurangnya percaya diri, sehingga apabila mereka melakukan kesalahan maka akan sangat menyalahkan diri sendiri.
Selain itu penonton dalam jumlah yang banyak menyebabkan informan merasa tegang dan gugup saat menjalani pertandingan. Menurut hasil observasi juga dapat dilihat bahwa sebelum memulai pertandingan, informan selalu melihat sekeliling lapangan dan penonton yang menyaksikan pertandingan. Hal ini sesuai pernyataan Ramiah (2003) menungkapkan bahwa pengaruh masa penonton atau masa sangat berpengaruh pada suasana pertandingan baik secara positif maupun negatif yang dapat berpengaruh terhadap kestabilan mental atlet pada saat bertanding. Infroman takut apabila mengalami kegagalan yang menimbulkan tuntutan untuk selalu meraih hasil positif dalam setiap pertandingannya. Hal ini sesuai pernyataan Hartanti (2004) yang menyatakan aspek-aspek kecemasan dapat timbul pada individu dalam situasi kompetitif (situasi pertandingan) adalah sebagai berikut:
a. Keluhan Somatik (Somatic Complains)
b. Ketakutan akan kegagalan (Fear of Failure)
c. Perasaan tidak mampu (Feelings of Inadequacy)
d. Kehilangan kontrol (Lost of Control)
e. Kesalahan (Guilt)
Kecemasan dalam pertandingan akan mengakibatkan tekanan emosi yang
berlebihan yang dapat mengganggu penampilan dan pelaksanaan pertandingan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan, menunjukkan bahwa dampak dari kecemasan yang dialami menyebabkan munculnya reaksi- reaksi seperti berkurangnya konsentrasi dalam pertandingan dan fisik menjadi mudah lelah. Menurut hasil observasi yang telah dilakukan, informan mengalami muntah-muntah dan kelelahan saat pertandingan masih berjalan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gunarsa, Satiadarma, & Soekasah (1996), yang menyatakan bahwa kecemasan menyebabkan atlet terpaksa memfokuskan energi psikofisiknya untuk mengembalikan kondisinya ke keadaan seimbang. Hal ini menyebabkan konsentrasi atlet untuk menghadapi lawan menjadi berkurang. Munculnya gangguan kecemasan yang kompleks pada atlet membuat keadaan menjadi lebih buruk karena fokus perhatian atlet menjadi terpecah-pecah pada saat yang bersamaan yang menyebabkan atlet harus menggunakan energi yang berlebihan untuk mencapai keadaan psikofisik yang seimbang. Penggunaan energi berlebihan menyebabkan atlet dengan cepat mengalami kelelahan, sehingga kondisinya dengan cepat akan menurun dan penampilannya menjadi buruk. Gunarsa (2008) menyatakan, pemakaian energi atlet yang sedang mengalami cemas berlebih menjadi boros. Ketika dalam kondisi kelelahan dan kehilangan fokus, informan mengatakan akan lebih rentan melakukan kesalahan-kesalahan teknis dalam pertandingan yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gunarsa, Satiadarma, & Soekasah (1996) yang mengatakan bahwa dampak kecemasan dan ketegangan terhadap penampilan atlet akan secara bertingkat berakibat negatif. Apabila tingkat kecemasan tinggi akan mempengaruhi peregangan otot-otot yang berpengaruh pula terhadap kemampuan teknisnya, sehingga penampilan atau permainan menjadi lebih buruk. Selanjutnya, alam pikiran semakin terganggu dan muncul berbagai pikiran negatif, misalnya ketakutan akan kalah dan kembali muncul kecemasan baru.
Setiap atlet yang mengalami kecemasan dalam menghadapi pertandingan memiliki upaya dan cara untuk mengatasi hal tersebut agar berdampak positif terhadap penampilannya di atas lapangan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, upaya informan untuk mengatasi kecemasan dengan berusaha untuk rileks atau relaksasi dan tenang dalam menguasai diri sendiri. hal ini sesuai pendapat Kartono (2003) menyebut relaksasi sebagai teknik mengatasi kecemasan melalui pengendoran otot-otot dan syaraf. Relaksasi ini bertujuan agar keadaan atlet menjadi relaks/santai. Relaks adalah keadaan saat seorang atlet berada dalam kondisi emosi yang tenang (Gunarsa, 2008). Kecemasan mampu diatasi dengan pengalihan kognitif seperti yang dilakukan informan sesuai hasil wawancara dan observasi yang dilakukan yaitu melakukan teriakan-teriakan dan banyak minum air putih untuk menghilangkan kecemasan yang dialami. Hal ini dilakukan agar perhatian terhadap hal-hal yang menyebabkan kecemasan dalam menghadapi pertandingan menjadi berkurang bahkan hilang teralihkan. Pendekatan terapi kognitif ini mampu merubah pola pemikiran seseorang terhadap sumber kecemasan yang dihadapinya.
Selain hal tersebut, informan juga mendapat dorongan dan dukungan dari keluarga, teman dan orang-orang sekitar yang mampu mengatasi kecemasan yang dialami. Sesuai dengan hasil observasi dilapangan, informan nampak diberikan dukungan oleh rekan-rekan satu timnya saat dalam keadaan cemas. Pernyataan informan sesuai dengan penyataan Baron dan Byrne (2005), yaitu dukungan sosial adalah kenyamanan secara fisik dan psikologis yang diberikan oleh teman, keluarga, dan orang-orang sekitar. Berdasarkan wawancara yang dilakukan menunjukkan bahwa motivasi dan dukungan pelatih mampu membantu mengatasi kecemasan saat menghadapi pertandingan. Berdasarkan hasil observasi, informan diberikan pengarahan dan motivasi oleh pelatih sehingga penampilannya mampu meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarafino (2006) mengatakan bahwa dukungan yang melibatkan ekspresi empati, perhatian, pemberian semangat mampu mengurangi kecemasan atlet dalam menghadapi pertandingan.
Kecemasan tidak selalu merugikan, karena pada dasarnya rasa cemas berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap diri untuk tetap waspada terhadap apa yang akan terjadi, namun jika level kecemasan sudah tidak terkontrol sehingga telah mengganggu aktivitas tubuh, maka hal itu jelas akan sangat mengganggu. Dari hasil wawancara dan observasi yang diperoleh, informan merasa percaya diri dan optimis setelah mampu mengatasi kecemasan yang dihadapi sebelumnya. Ketika informan mampu mengatasi kecemasannya dengan baik maka akan menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi dan keyakinan diri yang kuat. Kepercayaan diri merupakan modal besar bagi atlet futsal, karena akan membentuk keyakinan dan menampilkan semua kelebihan yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Komentar
Posting Komentar