DRAFT PROPOSAL METPEN
PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT
TERHADAP HASIL BELAJAR
PEMBELAJARAN SEPAKBOLA
(Studi pada Siswa Sd Negeri Pucang 2, Sidoarjo)
Dosen
Pengampu
Dr. Or. Purbodjati, M.S.,
Dr. Achmad
Widodo, M.Kes.
Yetty
Septiani Mustar, S.KM., M.P.H.
Disusun Oleh
TRIAS
KARTIKA OKTRINA NIM 20060484006
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
FAKULTAS
ILMU OLAHRAGA
PRODI S-1
ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN
PENDIDIKAN KESEHATAN DAN REKREASI
2022
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan jasmani pada dasarnya suatu proses
melalui aktivitas jasmani, yang dirancang dan disusun secara sistematik
untuk mengasah kemampuan motorik, kognitif
dan afektif. Dengan pembelajaran beragam aktivitas pendidikan jasmani,
diharapkan kemampuan yang dimiliki peserta
didik bisa berkembang sesuai dengan harapan
yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional mengungkapkan bahwa:
“Pendidikan jasmani merupakan media untuk
mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik,
pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-
emosional-sportivitas- spiritual-sosial),
serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan
dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang”.
Model pembelajaran merupakan suatu bagian yang sangat penting bagi
guru dalam menyampaikan materi kepada peserta
didik. Model juga dapat digunakan untuk memperjelas dan membantu apa yang telah direncanakan oleh guru dengan membuat rancangan yang telah ditentukan. Dengan
adanya model pembalajaran, peserta didik diharapkan dapat mencapai kompetensi
pada masing-masing mata pelajaran, dan tujuan pembelajaran. Guru juga dituntut
untuk kreatif dan inovatif dalam kegiatan pembelajaran agar tujuan tersebut
tercapai, baik dalam penggunaan
media maupun pendekatan atau strategi pembelajaran itu sendiri.
Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan serta dapat diterima oleh pesrta didik dalam suatu pembelajaran guru harus merancang model pembelajaran
yang pas untuk mengajar, salah
satunya dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif yang setidaknya terdiri dari beberapa
pendekatan, salah satunya adalah Team Games Tournaments atau TGT.
Team Game Tournament (TGT) merupakan salah
satu tipe pembelajaran kooperatif atau pembelajaran kelompok yang mudah
diterapkan. Menurut Rusman (2010:203) “Model pembelajaran
kooperatif yaitu strategi pembelajaran yang melibatkan siswa dalam suatu
kelompok kecil untuk saling berinteraksi”. Dengan menggunakan Team Game Tournament
(TGT) peserta didik diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan lebih
termotivasi.
Team Game Tournament (TGT) dapat diterapkan
dalam pembelajaran permainan sepakbola, karena Team Game Tournament (TGT)
peserta didik diharuskan menguasai materi
yang telah diberikan oleh guru dengan
mengacu pada kinerja kelompok
dan peran tiap individu.
Menurut Wahyuni, dkk. (2010:3) Sepakbola
merupakan salah satu jenis permainan bola besar yang dimainkan secara beregu.
Pemain dalam sepakbola berjumlah sebelas orang tiap tim. Dalam sepakbola banyak
aspek yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama aspek karakter.
Aspek tersebut adalah menghargai, kerjasama, dan displin. Pada pelaksanaan proses pembelajaran
setiap siswa jelas mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dan guru condong
mengajarkan teknik, sehingga siswa cepat merasa bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.
Pada pembelajaran PJOK materi permainan bola besar khususnya
sepakbola terdapat beberapa teknik dasar
sepakbola seperti passing, dribbling,
shooting, heading, catching, dan controlling.
Salah satunya adalah materi pembelajaran dribbling atau menggiring. Maka dari itu, perlu adanya pemahaman
dan penguasaan teknik dasar dribbling dalam
sepakbola. Bagi siswa yang baru saja mengenal
teknik dasar dalam sepakbola tentunya
akan mengalami kesulitan karena belum pernah menguasai dan merasakan sentuhan bola. Oleh
karena itu, ketika pembelajaran PJOK yang dilaksanakan pada saat proses
pembelajaran kurang optimal, akibat tugas gerak siswa kurang terpenuhi.
Dari permasalahan tersebut yang telah
dijelaskan oleh penulis, penulis mencoba menerapkan Team game Tournament (TGT)
sebagai model pembelajaran
tipe kooperatif atau kelompok. Tipe tersebut
bisa diterapkan dalam proses pembelajaran permainan sepakbola. Guru melakukan
penilaian mengacu pada kinerja kelompok dan peran individu terhadap
kelompoknya. Berdasarkan penjelasan diatas, penulis berencana untuk melakukan
penelitian mengenai “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Team Games Tournament (TGT) Terhadap
Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Sepakbola”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah
kurangnya keterampilan peserta didik
dalam bermain, dan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang kreatif
dan inovatif. Maka dalam rencana penelitian ini penulis mengidentifikasi
sebagai berikut:
Kurangnya hasil belajar peserta didik dalam
pembelajaran sepakbola yang disebabkan karena kurangnya keterampilan peserta
didik pada materi permainan sepak bola.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
diuraikan diatas, maka dalam perencanaan penelitian dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran
kooperatif Team Game Tournament (TGT)
terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran sepakbola di SD Negeri Pucang 2, Sidoarjo?
Jika ada, seberapa besar pengaruh model
pembelajaran kooperatif tipe Team Games
Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepakbola
di SD Negeri Pucang 2, Sidoarjo?
1.3 Tujuan Penyusunan
Berdasarkan rumusan masalah diatas,
maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh
model pembelajaran kooperatif Team Games
Tournament (TGT) terhadap hasil belajar permainan sepakbola pada siswa SD
Negeri Pucang 2, Sidoarjo.
2. Untuk mengetahui seberapa pengaruh model
pembelajaran kooperatif Team Games
Tournament (TGT) terhadap hasil belajar permainan sepakbola pada siswa SD
Negeri Pucang 2, Sidoarjo.
1.4 Manfaat Penyusunan
Adapun manfaat dan kegunaan dari penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai
berikut :
1. Bagi sekolah, agar hasil penelitian ini dapat memberikan alternatif penggunaan
model pembelajaran bagi guru terutama pada mata pelajaran PJOK
2. Bagi guru, agar hasil penelitian ini dapat
menjadi bahan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik terhadap
pembelajaran permainan sepakbola.
3. Bagi siswa, penggunaan model pembelajaran ini
diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam pembelajaran permainan
sepakbola.
4. Bagi peneliti, penelitian ini memberikan
sebuah pengalaman yang bertujuan meneliti penerapan model pembelajaran
kooperatif dengan tipe team games
tournament untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa SD Negeri Pucang 2, Sidoarjo.
1.5 Batasan Penelitian
Mengingat luasnya masalah
yang dihadapi, maka penelitian ini dibatasi
masalah sebagai berikut:
a. Penelitian
ini terbatas pada permainan sepakbola khususnya teknik dribbling.
b. Hasil belajar yang dinilai hanya 3 aspek yaitu aspek
afektif, kognitif dan psikomotor
c. Menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team games tournament.
d.
Penelitian ini hanya pada siswa kelas V SD Negeri
Kedanyang yang dilaksanakan pada jam
pembelajaran PJOK
1.6 Asumsi
Dalam penelitian ini penulis memiliki asumsi
yang sesuai dengan tujuan penelitian. Menurut Maksum (2018: 53) asumsi adalah
suatu pernyataan yang diterima sebagai kebenaran tanpa harus menguji atau
membuktikannya sendiri. Penelitian ini berasumsi bahwa semua siswa SD Negeri
Kedanyang, Gresik telah
memperoleh sebuah pengalaman belajar oleh guru PJOK pada materi sepakbola yang
sebelumnya sudah diterima dan relatif sama.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1
Hakikat Hasil Belajar pada Pembelajaran Sepakbola
2.1.1
Pengertian
Hasil Belajar
Belajar merupakan proses dari interaksi individu dengan lingkungan yang
bertujuan untuk mendapatkan sebuah perubahan yang mengarah pada perilaku.
Perubahan yang dihasilkan dapat berupa perubahan dari segi pengetahuan,
keterampilan dan sikap. Perubahan memerlukan waktu yang relatif lama dan
merupakan hasil pengalaman. Belajar adalah sebuah perubahan
prilaku seseorang dapat dilihat dengan mengetahui hubungan antara stimulus dan respon. Adanya stimulus dan respon
menyebabkan seseorang beradaptasi terhadap perubahan yang ditimbulkan
oleh proses perubahan. Oleh karena itu hasil
belajar sering kali digunakan untuk
ukuran untuk mengetahui sejauh
mana seseorang dapat menguasai bahan yang sudah diajarkan.
Menurut Winkel (dalam Purwanto, 2010:45) Hasil belajar adalah perubahan
yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek yang
berubah mengacu pada taksonomi tujuan pembelajaran yang dikembangkan oleh
Bloom, Simpson dan Harrow mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dari pernyataan tersebut
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah sebuah interaksi yang dilakukan antara individu dengan lingkungan
menyebabkan perubahan berdasarkan tujuan belajar. Peubahan perilaku yang timbul
karena adanya sebuah penugasan atas sebuah bahan. Hasilnya berupa perubahan
dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
2.1.2
Faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar
Menurut
Baharudin (2010:19) secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi ada dua
kategori, yaitu faktor internal dan eksternal. Kedua faktor yang saling
mempengaruhi terhadap proses belajar individu.
a. Faktor Internal, Faktor internal adalah
faktor-faktor yang berasal dari individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar
individu. Faktor faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
1. Faktor fisiologis
Faktor fisiologis adalah faktor yang
berhubungan dengan kondisi fisik individu. Selama belajar berlangsung, peran
funsi fisiologi mempegaruhi hasil belajar, terutama
pancaindra.
2. Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah keadaan psikologis
seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis
yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan, motivasi, minat, dan bakat.
b. Faktor-faktor Eksternal. Selain faktor
internal, faktor eksternal juga adpat mempengaruhi proses belajar pada siswa. Menurut
Syah dalam (Baharuddin, 2010: 26-28) menjelaskan bahwa
faktor eksternal yang mempengaruhi faktor lingkungan dapat digolongkan menjadi
dua golongan yaitu
faktor lingkungan sosial dan
faktor lingkungan nonsosial.
1. Lingkungan
sosial
v Lingkungan sekolah, guru, dan teman sekolah
dapat mempengaruhi proses belajar seorang siswa.
v Lingkungan sosial masyarakat, lingkungan
masyarakat atau tempat tinggal siswa akan mempengaruhi siswa.
v Lingkungan sosial keluarga, lingkungan ini
sangat mempengaruhi hasil belajar siswa karena sifat orang tua, keluarga juga
berdampak terhadap aktivitas belajar.
2. Lingkungan
nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah
v Lingkungan alamiah, seperti
cuaca, kondisi udara dan musim.
v Lingkungan instrument yaitu perangkat belajar
yang mendukung terhadap aktivitas belajar.
v Faktor materi pelajaran. Materi pembelajaran
harus disesuaikan dengan usia perkembangan siswa, begitu juga metode mengajar
disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa.
v
Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament
2.2 Hakikat model pembelajaran kooperatif tipe team games
tournament
2.2.1
Pengertian Model Pembelajaran
Model
pembelajaran merupakan sebuah cara untuk guru dalam menyampaikan
materi dengan berbagai macam bentuk individu atau kelompok. Model pembelajaran dapat dijadikan sebuah pilihan
seorang guru untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.
Menurut Soekamto,
dkk dalam (Trianto, 2010: 74) Model pembelajaran
adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman
bagi para perancang pembelajaran dan pengajar dalam merencanakan aktivitas
belajar mengajar.
Menurut
Brady dalam (Ainurrahman, 2014: 146) mengemukaan bahwa model pembelajaran dapat diartikan
sebagai blueprint yang dapat
dipergunakan untuk membimbing guru di dalam mempersiapkan dan melaksanakan
pembelajaran.
Dari
beberapa kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu
rencana atau pola yang menggambarkan kerangka
(konseptual) melalui prosedur
sistemtis yang dipergunakan untuk membentuk, merancang, menentukan bahan-bahan pembelajaran oleh guru untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Dalam pemilihan model
pembelajaran guru harus mengetahui karakteristik siswa
agar ketika pembelajarann siswa dapat optimal melakukan interaksi ke teman
lainnya.
2.2.2
Pengertian Model Pembelajaran
Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang melalui kelompok kecil yang
saling bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar. Hal ini sesuai dengan
sebuah pendapat yang dikemukakan oleh Jauhar
(2010: 52) “Pembelajaran yang berdasarkan paham kontruktivis.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda”
Slavin (dalam Rusman 2010: 201)
pembelajaran koopertif menekankan siswa untuk lebih berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Dalam model kooperatif yang paling pening adalah ketika siswa
dapat belajar dengan cara saling bekerja sama antar
siswa tujuannya untuk membantu siswa yang dengan bantuan siswa yang mampu.
2.2.3
Pengertian Model Pembelajaran
Team Games Tournament
Pemahaman
tentang sebuah model pembelajaran yang akan dipergunakan dalam pembelajaran
haruslah dipahami dengan seksama. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran
yang menggunakan sebuah model pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
Teams
Games Tournament merupakan salah satu metode
pembelajaran kooperatif yang dikembangkan
oleh slavin untuk membantu siswa meriview dan menguasai materi
pelajaran. Slavin (dalam Noviana 2016: 2) Terdapat lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT, yaitu :
a.
Penyajian Kelas (Class Presentation)
Penyajian kelas dalam
pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak berbeda dengan pengajaran biasa atau
pengajaran klasikal oleh guru, hanya pengajaran lebih difokuskan pada materi yang sedang dibahas
saja. Ketika penyajian kelas
berlangsung, mereka sudah berada dalam kelompoknya.
b.
Kelompok (Teams)
Kelompok disusun dengan
beranggotakan 4-5 orang yang mewakili pencampuran dari berbagai keragaman dalam
kelas seperti kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau etnis. Fungsi utama
mereka dikelompokkan adalah anggota-anggota kelompok saling meyakinkan bahwa mereka
dapat bekerja sama damalm belajar
dan mengerjakan game
atau lembar kerja dan lebih khusus lagi untuk menyiapkan semua anggota dalam
menghadapi kompetisi.
c.
Permainan (Games)
Pertanyaan atau pelaksanaan game disusun dan dirancang dari materi yang relevan dengan materi yang telah disajikan untuk menguji pengetahuan yang
diperoleh mewakili masing-masing kelompok.
d.
Kompetisi (Tournaments)
Turnamen adalah susunan dari
beberapa game yang dipertandingkan. Biasanya dilaksanakan pada akhir minggu
atau akhir pokok pembahasan setelah guru memberikan penyajian kelas dan lembar
kerja.
e.
Penghargaan Kelompok
(Team Recognize)
Penghargaan yang diberikan kepada
tim pemenang dalam turnamen yang telah dilakukan.
2.2.4
Pengertian Sepak Bola
Menurut Wahyuni, dkk. (2010: 3) sepakbola merupakan salah satu
jenis permainan bola besar yang dimainkan secara
beregu. Pemain dalam sepakbola
berjumlah sebelas orang tiap tim semua pemain dapat memainkan bola menggunakan
seluruh anggota tubuh kecuali tangan. Namun ada satu pemain yang boleh menggunakan
tangan yaitu pemain yang berposisi menjadi kiper dalam area kotak 16 meter.
Permainan sepakbola dapat dilakukan siswa dengan baik apabila siswa mampu memahami dan menguasai
teknik-teknik dasar dari sepakbola. Siswa akan merasa kesulitan dalam bermain
sepakbola jika kurang menguasai atau mengerti gerakan teknik-teknik dasar
sepakbola. Pada dasarnya permainan sepakbola adalah permainan menendang bola
namun dalam sepakbola tidak hanya teknik menendang bola seperti teknik
menghentikan, menggiring, menembak, menyundul, dan menangkap. Melihat banyaknya
teknik dari sepakbola, dapat diajarkan melalui sebuah pembelajaran yang tepat
agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.
Dalam hal ini penulis hanya akan menyampaikan pada materi dribbling (menggiring bola). Dribbling
dalam permainan sepakbola dapat dikatakan sebagai penguasaan bola dengan
kaki ketika bermain di lapangan.

Dribbling merupakan teknik dasar paling penting dalam permainan sepakbola. Dalam pelaksanaannya menurut
Sujarwadi dan Sarjiyanto (2010: 5)
Gambar 2.1 Teknik dasar dribbling
bola menggunakan punggung
kaki. (Sujarwadi dan Sarjiyanto, 2010: 5)
Berdasarkan
gambar 2.1 diatas menjelaskan bagaimana cara melakukan teknik adsar dribbling (menggiring)
bola menggunakan punggung kaki.
a)
Sikap kaki
·
Kaki yang hendak digunakan
menggiring di depan dan waktu mendorong bola
pergelangan kaki sedikit dikunci mengarah ke bawah.
·
Lutut kaki depan ditekuk
dan kaki belakang
sebagai penumpu berat badan
b) Sikap badan tegap dan relaks
c)
Sikap tangan di samping
badan (untuk menjaga
keseimbangan)
d) Gerakan
·
Kaki depan mendorong bola ke arah depan diikuti
kaki belakang.
·
Bola tidak terlalu jauh dari badan
Gambar 2.2 Teknik dasar dribbling
bola menggunakan kaki bagian dalam (Sujarwadi dan Sarjiyanto, 2010: 6)
Berdasarkan gambar 2.2 diatas menjelaskan bagaimana cara melakukan teknik dasar
dribbling (menggiring) bola bagian
dalam. Prinsip mirip dengan teknik menggiring bola dengan punggung kaki.
Perbedaan terletak pada saat
mendorong bola saja. Dalam teknik ini, pergelangan kaki agak dikunci dengan
kaki bagian dalam
Gambar 2.3 Teknik dasar dribbling
bola menggunakan kaki bagian luar. (Sujarwadi dan Sarjiyanto, 2010: 6)
Berdasarkan gambar 2.3 diatas menjelaskan
agaimana cara melakukan dribbling (menggiring)
bola. Prinsipnya juga mirip seperti teknik menendang bagian punggung kaki. Perbedaannya pergelangan kaki pendorong sedikit diputar serta dikunci
serong ke arah dalam.
2.3 Hipotesis
Berdasarkan kajian pustaka di atas, maka dapat
merumuskan hipotesis yaitu terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT) terhadap
hasil belajar permainan sepakbola pada siswa SD Negeri Kedanyang, Gresik.


BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1 Jenis Dan Desain
Penelitian
3.1.1
Jenis Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan
pendekatan kuantitatif. Penelitian eksperimen semu adalah penelitian yang tidak dapat memenuhi 4 hal berikut, yaitu adanya
pre-test dan post-test sebagai perlakuan, mekanisme kontrol, randomisasi, dan
ukuran keberhasilan (Maksum 2018: 81). Dalam penelitian ini hanya memenuhi 2
hal yaitu perlakuan dan ukuran keberhasilan. Penelitian ini hanya mencari
sebuah pengaruh dengan adanya pengukuran.
3.1.1
Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan sebuah rancangan
bagaimana suatu penelitian akan dilakukan. Rancangan tersebut akan digunakan
untuk mendapatkan jawaban terhadap
pertanyaan penelitian yang dilakukan. (Maksum, 2018: 114). Desain penelitian
ini yang digunakan adalah One Group
Pretest- Postest Design, sebagai berikut:
![]()
Keterangan:
T1 : Pre-Test
X : Perlakuan (Treatment)
T2 : Post-Test
3.2
Waktu dan Penelitian
1. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah
4 (empat) kali pertemuan dengan rincian 1 kali Pre-test, 1 kali Treatments,
1 kali Post-test.
2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian akan dilaksanakan di lapangan sekolah
SD Negeri Kedanyang, gresik.
Desa kedanyang, kec. Kebomas.
3.3 Populasi dan sampel
1.
Populasi
Populasi adalah keseluruhan individu atau objek yang dimaksudkan untuk
diteliti, yang nantinya akan generaliasi. Generalisasi adalah suatu cara
pengambilan kesimpulan terhadap
kelompok individu atau objek yang lebih
luas berdasarkan data yang diperoleh dari sekelompok individu atau objek yang
lebih sedikit (Maksum, 2018: 63). Dalam penelitian ini yang menjadi populasinya
adalah 227 siswa SD Negeri Kedanyang.
2.
Sampel
Sampel adalah sebagian
kecil individu atau objek yang dijadikan wakil
dalam penelitian dari sebuah anggota populasi (Maksum, 2018: 63). Dalam
penelitian ini menggunakan teknik Cluster
Random Sampling. Cara menentukan sampel dengan cara mengumpulkan seluruh
ketua kelas di setiap kelas di SD Negeri Kedanyang untuk mengambil undian
menjadi sampel penelitian. Ketika undian yang diambil oleh ketua kelas tersebut
ada yang bertuliskan sampel. Maka dengan demikian kelas tersebut akan menjadi
sampel dalam penelitian ini.
3.4
Variabel penelitian dan definisi operasional
1.
Variabel penelitian
Variabel adalah suatu konsep yang memiliki
variabilitas atau keragaman yang menjadi
fokus penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, 1) Variabel bebas (independent variabel) adalah variabel yang
mempengaruhi
2.
Definisi operasional
2) Variabel terikat adalah (dependent
variable) adalah variabel yang dipengaruhi (Maksum, 2018: 37). Variabel
dalam penelitian ini yaitu:
a. Variabel bebas : Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT)
b.
Variabel terikat
: Hasil belajar
permainan sepakbola
Agar pada kajian dalam penelitian ini tidak terjadi kesalahpahaman,
kerancuan makna, atau perbedaan presepsi, maka beberapa istilah perlu
didefinisikan secara operasional. Istilah-istilah tersebut adalah:
a.
Model Pembelajaran
Menurut
Joyce & Weill (dalam Rusman, 2012: 133) adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk
kurikulum, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pelajaran
kelas atau yang lain.
b.
Pembelajaran Kooperatif
Abdulhak (dalam
Rusman, 2012: 225) bahwa “pembelajaran cooperative
dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan
pemahaman bersama diantara peserta belajar itu sendiri”.
c.
Team Game Tournaments (TGT)
Menurut Slavin (dalam Rusman, 2012: 225) Pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari lima langkah tahapan, yaitu tahap penyajian kelas (class presentation), belajar dalam
kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan penghargaan kelompok
(team recognition).
d.
Hasil Belajar
Menurut
Suprijono (dalam Thobroni. 2015: 20) hasil belajar adalah pola- pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi,
dan keterampilan. Hasil belajar
merupakan suatu evaluasi dalam proses
pembelajaran termasuk dalam pembelajaran sepakbola.
c.
Sepakbola
Menurut Wahyuni, dkk. (2010:3) Sepakbola merupakan salah satu jenis permainan bola besar yang dimainkan
secara beregu. Pemain dalam sepakbola berjumlah sebelas orang tiap tim. Sesuai
dengan pengertian tersebut maka dari itu model
pembelajaran yang tepat
digunakan dalam pembelajaran
sepakbola adalah model pembelajaran Team
Game Tournament (TGT).
Untuk dapat mengumpulkan data dalam suatu
penelitian diperlukan alat yang
disebut instrumen. Menurut Maksum (2018: 136) instrumen adalah alat ukur yang
digunakan unuk mengumpulkan data dalam penelitian. Pada penelitian ini
instrumen yang digunakan mencangkup penilaian keterampilan (psikomotor), sikap
(afektif), dan pengetahuan (kognitif)
2. Tes Psikomotor (keterampilan) Dribbling

Pelaksanaan tes dribbling yaitu
siswa akan melakukan teknik dribbling
zig-zag melewati plate yang
sudah disediakan. Siswa
dib Akan ada 5 plate
yang akan disiapkan. Tiap plate berjarak
1 meter. Siswa akan memulai dribbling dari
garis start kemudian melewati plate sampai menuju garis finish.Penskoran dalam tes psikomotor yaitu 16 untuk skor maksimal dan 50%
untuk bobot penilaian. Tes keterampilan ini dilakukan
Gambar 3.1 Tes psikomotor dribbling
Berikut ini merupakan rubrik
penilaian psikomotor dribbling:
Tabel 3.1 Penilaian Psikomotor
Rubrik Penilaian
Unjuk Kerja Teknik Dasar Dribbling Sepakbola
|
Aspek yang dinilai |
Indikator |
Kualitas Gerak |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
a. Sikap
kaki |
Kaki yang hendak digunakan menggiring di
depan dan waktu mendorong bola pergelangan
kaki sedikit dikunci
mengarah ke bawah |
|
|
|
|
|
Lutut kaki depan ditekuk dan kaki belakang sebagai penumpu berat
badan |
|
|
|
|
|
|
b. Sikap badan tegap dan relaks |
Sikap badan
tegap dan relaks |
|
|
|
|
|
c. sikap tangan disamping badan |
Sikap tangan disamping badan (untuk menjaga keseimbangan) |
|
|
|
|
|
d. gerakan |
Kaki depan mendorong bola ke arah depan diikuti kaki belakang |
|
|
|
|
|
Bola tidak
terlalu jauh dari badan |
|
|
|
|
|
|
JUMLAH |
|
|
|
|
|
|
JUMLAH SKOR
MAKSIMAL : 16 |
|||||
Pedoman penskoran:
Nilai 1 jika dapat melaksanakan satu tahapan teknik dasar dribbling sepakbola
Nilai 2 jika dapat melaksanakan dua
tahapan teknik dasar dribbling sepakbola
Nilai 3 jika dapat melaksanakan tiga
tahapan teknik dasar dribbling sepakbola Nilai 4 jika dapat melaksanakan empat tahapan teknik dasar dribbling sepakbola
3. Tes Afektif
(sikap)
Pada tes afektif (sikap) dapat dinilai dari proses
pembelajaran berlangsung ketika pertemuan 1 untuk mengetahui sikap siswa saat
sebelum mendapat treatment atau
perlakuan. Salah satu aspek yang dinilai dalam afektif adalah disiplin, memecahkan masalah, dan keberanian.
Penskoran dalam afektif memilliki nilai maksimal dan bobot penilaiannya 30%.
Tabel 3.2 Penilaian Afektif
Rubrik Penilaian
Prilaku Dalam Dribbling Sepakbola
|
Perikaku Yang
Diharapkan |
Poin (Cheklist) |
|
1. Datang
tepat waktu |
|
|
2. Memecahkan masalah |
|
|
3. Keberanian |
|
|
JUMLAH (skor maksimal 3) |
|
4. Tes Kognitif
Pada tes kognitif
siswa diberikan pertanyaan berupa soal yang akan dijawab siswa secara individu, jumlah
soal yang ada sebanyak 2 butir soal. Nilai maksimal dari tes kognitif adalah 8, dengan bobot nilai 20%.
Tabel 3.3 Penilaian Kognitif
Rubrik Penilaian
Pemahaman Konsep Gerak Dalam Permainan Sepakbola
|
Pertanyaan
yang diajukan |
Kunci Jawaban |
|||
|
1. Urutan tahapan-tahapan melaksanakan teknik dasar dribbling sepakbola dibawah
ini? a.
Sikap tangan disamping badan (untuk menjaga keseimbangan) b. Sikap badan tegap |
|
|
|
|
|
c. Sikap kaki ·
Kaki yang hendak digunakan menggiring di depan dan waktu mendorong bola pergelangan
kaki sedikit dikunci mengarah kebawah. ·
Lutut kaki depan
ditekuk dan kaki
belakang sebagai penumpu berat badan. d. Gerakan ·
Kaki depan mendorong bola ke arah
depan diikuti kaki belakang ·
Bola tidak
terlalu jauh dari
badan |
|
|
|
|
|
2. Berikut ini mana
yang termasuk macam-macam teknik dasar passing sepakbola? a. Passing dengan punggung kaki. b. Passing dengan bagian
luar. c. Passing dengan kaki
bagian dalam |
|
|
|
|
|
JUMLAH (skor maksimal 8) |
|
|||
1.
Teknik Penilaian
·
Tes Unjuk Kerja (Psikomotor)
Melakukan teknik dasar menggiring bola (dribbling)
Keterangan :
Berikan penilaian terhadap
kualitas unjuk kerja peserta ujian,
dengan rentang nilai antara 1
sampai dengan 4.
Nilai =
Jumlah skor yang diperoleh
50
Jumlah skor maksimal
·
Pengamatan
Sikap (afeksi)
Memainkan permainan sepakbola dengan aturan yang ditentukan.
Menaati aturan permainan dan mau bekerjasama dengan teman satu tim dan
menunjukkan prilaku sportif.
Keterangan:
Memberikan tanda ceklist
pada kolom yang sudah disesiakan, setiap siswa menunjukkan atau menampilkan perilaku yang diharapkan.
Tiap tanda bernilai 1.
Jumlah skor yang diperoleh
Nilai =
30
Jumlah skor maksimal
·
Kuis
Jawab secara lisan atau peragakan dengan baik, pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep
gerak dalam permainan.
Keterangan:
Berikan penilaian terhadap
kualitas jawaban siswa,
dengan rentan nilai antara 1 sampai dengan 4.
Jumlah skor yang diperoleh
Nilai =
20
Jumlah skor maksimal
Nilai yang diperoleh siswa =
![]()
B. Prosedur Penelitian
Langkah-langkah penelitian ini untuk memperoleh data sebagai berikut:
1.
Sebelum penelitian penulis melakukan observasi
untuk mengetahui kondisi awal
di lapangan sehingga dapat diketahui masalah penelitian.
2.
Langkah selanjutnya adalah mengajukan
izin untuk melakukan penelitian di SD Negeri Kedanyang
3.
Setelah mendapat
persetujuan, memberikan pembekalan terhadap calon
peserta/siswa untuk mengisi kuisioner
data peserta selama 10-15 menit.
4.
Menyiapkan peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan saat melakukan penelitian.
5.
Memberikan
pengarahan tentang bagaimana
melaksanakan pertest dan
posttest serta maksud dan tujuan penelitian.
6.
Mencatat dan merekap hasil
penelitian.
7.
Membuat dan menyusun proposal
penelitian.
C.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian dini dilakukan dalam 4 (empat) kali
pertemuan. Dalam penelitian ini, teknik
pengumpulan data yang diambil dari data pretest dan posttest dengan
menggunakan teknik dribbling dengan
langkah sebagai berikut:
1.
melakukan pretest pada pertemuan 1, tes ini
menggunakan instrument penilaian pada sampel untuk mengetahui data
awal keterampilan dribbling sepakbola.
2.
Melakukan treatment
pada pertemuan 2.
3.
Melakukan posttest untuk kelompok eksperimen yang
akan yang dilaksanakan pada pertemuan 3. Data ini digunakan untuk mengetahui
keterampilan dribbiling sepakbola
siswa setelah diberikan sebuah perlakuan (treatment)
pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Alat dan bahan yang digunakan untuk
melakukan penelitian ini adalah:
1. Lapangan sepakbola (lapangan sekolah)
2. Bola sepakbola
3. Peluit
4.
Plate
5. Alat tulis
6. Lembar penilaian
7.
Stopwatch
8. Kamera digunakan untuk mengambil foto dan video
D. Teknik Analisis Data
Setelah melakukan seluruh
kegiatan dari penelitian, penulis harus
melakukan analisis data.
Dibawah ini beberapa teknik
dalam menganalisis data:
1. Rata-rata (mean)
Rata-rata (mean)
digunakan untuk menghitung nilai rata-rata hasil belajar
sepakbola sepakbola pretest dan posttest.
2.
Median
Median atau yang bisa disebut rata-rata posisi
angka yang terletak di tengah- tengah
sederetan angka atau sebuah distribusi frekuensi.
3.
Standar Deviasi
Standar deviasi
merupakan penyimpangan suatu nilai dari mean hasil
dribbling sepakbola.
4.
Varian
Varian adalah angka yang menunjukkan ukuran variabilitas yang dihitung
dengan jalan menguadratkan standar deviasi
5.
Uji Normalitas
Untuk mencari atau menarik kesimpulan dari penelitian ini. Uji normalitas digunakan untuk menguji
normalitas data peneliti menggunakan analisis data Chi-Square. Chi-Square adalah teknik
analisis statistik yang digunakan untuk
menguji perbedaan frekuensi
6.
Uji-T
Uji-T adalah teknik
statistik yang dipergunakan untuk menguji signifikasi perbedaan dua buah Mean yang berasal dari dua buah distribusi.
DAFTAR R
Ainurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
Alfabeta. Baharudin dan Wahyuni
Esa Nur. 2010. Teori Belajar
& Pembelajaran.
Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media.
Husdarta. 2009. Manajemen
Pendidikan dan Jasmani. Bandung: Alfabeta. Maksum, Ali. 2009. Statistika dalam Olahraga. Surabaya:
tanpa penerbit Maksum, Ali. 2018. Metodologi
Penelitian dalam Olahraga. Surabaya: Unesa
University Press.
Mielke, Danny. 2007. Dasar-dasar
Sepakbola. Bandung: Pakar Raya. Purwanto. 2010. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka belajar. Rusman. 2010.
Model-model Pembelajaran. Depok: PT. Rajagrafindo Persada. Sujarwadi dan Dei Sarjiyanto.
2010. Pendidikan Jasmani Olahraga dan
Kesehatan Kelas 8. Jakarta: PT Intan Pariwara.
Tim. 2014. Panduan Penulisan
Skripsi Universitas Negeri
Surabaya. Surabaya: Unesa
University Press
Komentar
Posting Komentar